Ujian kesabaran yang sesungguhnya

Hari lebaran tiba, semua orang menyambut dengan sukacita. Jangan tanya bagaimana gembiranya anak-anak kecil disaat lebaran, baju baru, sepatu baru, dapat uang saku. Waktu saya kecil dulu, celana yang bagus itu yang banyak kantong sakunya. Kami tentu tidak mau kegembiraan hari lebaran terganggu gara-gara kantong saku tidak muat lagi menampung semua amplop, permen atau kacang goreng yang kami dapatkan.

Adat kebiasaan orang sini, lebaran adalah waktunya silaturahmi. Saling berkunjung ke rumah saudara, kerabat, dan handai taulan semua berharap mendapatkan maaf atas semua kesalahan yang pernah diperbuat. Walau kadang kerabat yang dikunjungi ketemunya cuma setahun sekali waktu lebaran saja, tetap saja minta maaf. Mungkin ini maksudnya minta maaf karena bisanya silaturahmi hanya di hari lebaran saja 😀

Nah imbas dari kegiatan silaturahmi ini, banyak orang merasa perlu menyiapkan penyambutan yang baik pada tamu yang akan datang berkunjung. Dari sekedar menyapu halaman depan, mengecat rumah, membeli taplak meja dan toples kue baru sampai ada yang membeli sofa baru. Mudah-mudahan tamunya senang (sambil memuji sofa-nya yang baru, hehe…).

Para ibu lebih heboh lagi, maklum even lebaran begini waktu yang pas untuk menampilkan ilmu chef mereka yang sudah lama terpendam. Bikin bermacam kue, masak opor + ketupatnya, dan hidangan lezat lainnya. Beberapa bahkan ada yang merasa perlu untuk membuat satu live report dari dapur selama proses produksi makanan lalu mempostingnya di jejaring sosial semacam Facebook atau Instagram. Mungkin bagi yang berjiwa bisnis ini sekaligus sebagai media promosi yang efektif, sapa tau nanti ada yang pesan 😀

Hidangan lebaran (www.inacookiesbekasi.com)

Dengan agenda kunjungan silaturahmi yang padat dan di banyak tempat, diperlukan satu persiapan khusus. Perlu manajemen perut yang baik. Pertama, perut sudah terbiasa dengan ritme dan pola makan selama sebulan berpuasa. Kosong pada siang hari dan terisi pada malam hari. Kedua, di hari lebaran perut akan tiba-tiba terisi berbagai macam makanan dari tempat yang berbeda-beda. Dua hal ini bisa menimbulkan masalah jika tidak disertai dengan kontrol yang cukup, terutama mengontrol lidah, organ tubuh yang cukup sulit diatur, hehe…

Lidah sering tidak mengenal kompromi. Melihat begitu banyak hidangan lezat, rasanya ingin melahap semuanya. Lidah tidak mau ambil pusing, lha wong dia kebagian tugas yang mudah tinggal mengecap dan merasakan enaknya makanan yang masuk. Habis manis sepah dibuang (kedalam perut). Disini nih ada organ yang kebagian tugas berat, namanya lambung. Sudah gak kebagian merasakan manis atau gurihnya makanan, giliran sudah jadi sepah dialah yang bertugas mencerna. Do the dirty work.

Lambung yang biasanya dengan tenang dan damai mencerna makanan yang masuk pada waktu makan sahur, sekarang harus berjibaku mengolah segala macam makanan buah keserakahan lidah. Lontong opor, nastar, kastengel, emping melinjo, tape ketan, kue coklat, sirup warna warni, es buah dan masih banyak lagi. Campur aduk jadi satu, ngumpul semua di dalam lambung. Kelabakan benar ini lambung, masih belum selesai memproses, datang lagi gelontoran campuran aneka makanan. Mungkin kalau bisa protes, lambung bakalan menggelar demonstrasi besar-besaran.

Jika udah tidak tahan lagi, paling banter lambung mengadu ke temannya yang bernama syaraf. Tolong dong kasih tau si boss itu si lidah mbokya diomongin, sabar, tahan diri dulu. Situ enak, sini nggak enak. Tolong dong sms si boss, kasih sedikit alarm rasa sakit di bagian perut, biar inget jangan ngikutin lidah melulu, susahnya tuh disini boss 😀

Jika bulan ramadhan adalah training ground untuk belajar melatih kesabaran, maka bolehlah satu syawal itu dianggap sebagai hari ujiannya. Selama Ramadhan tidak banyak gangguannya, satu Syawal berjibun godaannya. Jika di satu Syawal kita bisa istiqomah makan dan minum secukupnya, maka disitulah kita lulus dengan nilai A. Bisakah menahan diri dari godaan nastas, kastengel dan kawan-kawannya? Berat juga, tapi patut dicoba.

Tapi.. lontong opor itu sungguh menggoda, hehehehe….

AZNAcom

Wong ndeso yang masih tetep ndeso meskipun kini bermukim di kota. Jika anda beruntung anda dapat menemukannya sedang gowes pagi di seputaran kota Jogja.

4 tanggapan untuk “Ujian kesabaran yang sesungguhnya

  • 19 Juli, 2015 pada 7:32 am
    Permalink

    Godaan nastar itu sungguh-sungguh menggoda, Mas

    Balas
  • 29 Juli, 2015 pada 10:18 am
    Permalink

    untung saya jarang makan lontong opor, kemarin hanya makan nasi opor kemudian malamnya sate ayam + lontong 😀

    Balas
    • 30 Juli, 2015 pada 4:17 am
      Permalink

      Hehe banyak jalan menuju perut paris, begitu nyampe perut akhirnya bersatu kembali sebagai lontong opor 😀

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *