Tanggal satu yang tidak selalu satu

Seperti yang sudah-sudah, kembali lagi kita disibukkan dengan satu rutinitas tahunan, kegiatan rekursif yang selalu saja berulang kembali di tiap akhir bulan ramadhan. Diskusi, perdebatan bahkan pertengkaran selalu terjadi hanya untuk menjawab satu pertanyaan singkat “tanggal satu Syawal tahun ini jatuh di hari apa?”. Kalaulah semua orang membicarakannya lewat media sosial Twitter, tentu ini segera menjadi trending topic nomer satu yang bisa bertahan dalam beberapa hari.

Jawabannya bisa sederhana tapi bisa juga rumit. Jawaban yang sederhana akan berbunyi “tanggal satu itu adalah hari dimana bulan sabit (hilal) sudah muncul kembali”. Ini pasti semua orang sudah sepakat. Situasi akan menjadi rumit manakala muncul pertanyaan turunannya, “munculnya bulan sabit itu seperti apa?”, “kalau hilalnya nggak keliatan gimana?”, “hitungannya gimana?”, dan seterusnya.

www.kanalsatu.com

Pada titik ini ramailah sudah. Dari alim ulama dengan ilmu agama yang cukup sampai pedagang kulit ketupat di pasar punya teori dan keyakinannya sendiri-sendiri. Jamaah Tarekat Naqsabandiyah punya cara tersendiri, jamaah An-Nadzir di Kabupaten Gowa, Bone dan Palopo punya metodenya sendiri, Lajnah Falakiyah PBNU dan PP Muhammadiyah menggunakan metode yang berbeda, organisasi yang lain memiliki pemahaman yang lain juga. Mengapa bisa begini?

Jawabannya adalah adanya beberapa dalil yang dipergunakan sebagai rujukan untuk menentukan kapan bulan baru dimulai. Jamaah yang satu dan lainnya menggunakan dalil yang berbeda, atau menggunakan dalil yang sama tapi berbeda penerjemahannya.

Lalu kita sebaiknya gimana? Beberapa pihak meminta agar umat saling menghargai perbedaan dan menghormati satu sama lain. Satu hal yang lebih mudah diucapkan daripada dipraktekkan. Terlebih lagi di kalangan akar rumput. Diskusi panjang, perdebatan, saling sindir bahkan sampai saling ejek kerap terjadi. Sementara beberapa pihak yang lain mendambakan suatu saat nanti hanya ada satu cara saja yang dipakai sehingga energi umat bisa digunakan untuk beribadah atau mengurusi hal-hal yang lain.

Ini merupakan tantangan berat bagi para alim ulama, pimpinan ormas dan tentunya bagi pemerintah selaku ulil amri yang diberi amanah memimpin umat. Bagaimana menghilangkan ego kelompok dan mengedepankan ukhuwah islamiyah. Alangkah indahnya jika semua mau duduk bersama, menyepakati penggunaan satu metode dan kemudian menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah untuk menetapkan satu sistem penanggalan Hijriyah.

Untuk sementara ini, marilah menikmati perbedaan, lebaran besok atau lusa tidak jadi masalah, yang terpenting menjaga ukhuwah dan berdoa semoga amal ibadah bulan ini diterima oleh Allah SWT dan kita semua masih diberi kesempatan menemui bulan Ramadhan di tahun depan. Aamiin.

AZNAcom

Wong ndeso yang masih tetep ndeso meskipun kini bermukim di kota. Jika anda beruntung anda dapat menemukannya sedang gowes pagi di seputaran kota Jogja.

2 tanggapan untuk “Tanggal satu yang tidak selalu satu

  • 17 Juli, 2015 pada 4:57 am
    Permalink

    Selamat hari raya idul fitri, semoga amal ibadah puasa kita diterima Allah SWT. Amin. Mohon maaf atas segala kesalahan ya

    Balas
    • 17 Juli, 2015 pada 3:02 pm
      Permalink

      Mohon maaf juga atas segala kesalahan. Alhamdulillah tahun ini ormas besar & pemerintah menetapkan 1 Syawal di hari yang sama. Mudah-mudahan kedepan segera dapat disepakati sistem penanggalan Hijriyah yang dipakai bersama.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *