Mengenal istilah Hunger Marketing

Beberapa minggu terakhir ini para online shopper dan pemerhati gadget dihebohkan oleh peluncuran program flash sale smartphone merek Xiaomi Redmi 1S oleh salah satu toko retail online terkemuka lazada.co.id. Betapa tidak bikin heboh, dalam tiga periode flash sale, Lazada berhasil menjual 25 ribu unit smartphone Xiaomi Redmi 1S hanya dalam tempo tidak lebih dari 10 menit saja. Lonjakan traffic yang begitu besar bahkan sampai membuat server Lazada kewalahan.

Timbul pertanyaan di benak saya, apa bagusnya smartphone ini sampai orang berebut untuk mendapatkannya?.

Dari hasil penelusuran, spesifikasi tinggi plus harga bersaing sepertinya menjadi godaan terbesar yang membuat orang-orang rela ngantri untuk mendapatkannya. Namun karena merek Xiaomi ini masih seumur jagung, saya masih bertanya-tanya adakah sebab lain, kita tahu orang Indonsia sangat brand minded.

Sampai akhirnya saya membaca satu artikel di portal berita detik.com yang membahas strategi pemasaran Redmi 1S dan menyebutkan satu istilah asing yaitu “hunger marketing”. Disitu disebutkan bahwa Xiaomi disinyalir menerapkan strategi ini dalam penjualan produknya. Ini istilah yang sama sekali baru bagi saya,  jadi penelusuran saya lanjutkan dengan keyword : hunger marketing.

Situs Wallrich menyebutkan strategi ini dimulai dengan memperkenalkan produk ke pasar dengan harga yang menarik untuk menarik minat calon pembeli kemudian membatasi pasokannya seolah-olah terjadi kekurangan stok barang. Jika calon konsumen sudah penasaran, barang dilepas ke pasar dengan kuota barang dalam jumlah tertentu dan dilakukan dalam jangka waktu tertentu pula. Konsumen akan “terpacu” dan berlomba-lomba untuk sesegera mungkin untuk membeli produk tersebut.

Sebenarnya Xiaomi ini bukanlah yang pertama mengadopsi strategi hunger marketing, Apple diketahui sejak lama menerapkan strategi ini dalam penjualan produknya, seperti iPhone atau iPad. Sejak pertama kali diluncurkan, walaupun mendapat rating tinggi dipasaran, Apple tetap “membatasi” penjualan. Dengan stok yang “seolah-olah terbatas” itu, diharapkan peminatnya akan tetap banyak yang pada akhirnya dapat menjaga harga di level tinggi.

Antrian calon pembeli iPhone 6 di kota Sydney

Strategi hunger marketing ini menjadi pisau bermata dua bagi Xiaomi. Disatu sisi penjualan laris manis, disatu sisi muncul cibiran dari kompetitor. Bahkan Xiaomi didenda sebesar USD 20 ribu oleh pihak komisi perdagangan Taiwan karena dianggap melebih-lebihkan produknya sehingga tampak berharga dan sulit ditemukan.

Jadi bagaimana dengan anda, apakah kemarin ikut mengantri buat beli Redmi 1S ?

–Referensi : 1, 2, 3, 4, 5, 6

AZNAcom

Wong ndeso yang masih tetep ndeso meskipun kini bermukim di kota. Jika anda beruntung anda dapat menemukannya sedang gowes pagi di seputaran kota Jogja.

2 tanggapan untuk “Mengenal istilah Hunger Marketing

  • 29 September, 2014 pada 8:38 am
    Permalink

    Oh jadi ini namanya Hunger Marketing tho. Sepertinya memang Indonesia sekarang sedang cocok dengan trend begini, trend yang terkesan beli barang dengan cara rebutan dan menciptakan euforia yang berlebih terhadap barang tsb. Tapi ya gak apa apa biar tambah rame isu yang beredar di negara ini dan saya cukup sebagai penikmat beritanya saja dan belum mengantri beli 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *