Berkendara nyaman di gunung Gumitir

Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke Samudra, bersama teman bertualang…

Penggalan lagu tema dari film kartun Ninja Hatori itu adalah komentar spontan dari istri saudara sepupu saya yang asli Gresik, ketika pertama kali diajak pergi ke Banyuwangi melewati jalur selatan lewat kabupaten Jember. Tentu yang dia maksud tidak ada tempat lain selain jalur naik turun berkelok-kelok di gunung Gumitir.

Posisi geografis kabupaten Banyuwangi memang cukup unik. Terletak di ujung timur pulau Jawa, Banyuwangi dikelilingi oleh pegunungan di sebelah barat dan utara, samudera Indonesia di sebelah selatan dan selat bali di sebelah timur. Deretan pegunungan ini membuat jalur transpotasi darat ke daerah lain di pulau Jawa sementara ini cuma ada dua. Jalur pantura lewat hutan Baluran, dan jalur tengah lewat gunung Gumitir. Semoga nanti rencana pembukaan jalur trans selatan Jawa segera direalisasikan walaupun kemungkinan tetap akan melewati hutan atau daerah pegunungan.

Selayaknya jalanan di daerah pegunungan, ruas jalan di gunung Gumitir berkelak kelok dengan kombinasi sisi kanan kiri jalan berupa tebing dan jurang. Walau tanjakan dan turunannya tidak terlalu terjal, namun tetap harus ekstra hati-hati karena jalan yang tidak terlalu lebar dan volume kendaraan yang ramai dan sebagian adalah kendaraan besar seperti bus dan truk.

Jalan raya di gunung Gumitir membentang sepanjang kurang lebih 8 kilometer, dimulai dari tikungan patung penari Gandrung di sisi timur sampai ke gapura kabupaten Jember di sisi barat.

Gapura kabupaten Jember di sisi Barat dan patung gandrung di sisi Timur

Jalanan yang relatif sempit, penuh tikungan tajam dan banyaknya kendaraan besar seperti bus dan truk menuntuk kemampuan mengemudi yang baik dan konsentrasi tinggi.

Kehati-hatian ekstra diperlukan jika anda berkendara melewati jalur ini pada waktu malam hari atau saat turun hujan, karena jalanan menjadi licin dan sering turun kabut yang mengurangi jarak pandang. Pada situasi ini, kepatuhan pada rambu-rambu lalu lintas dan marka jalan akan sangat bermanfaat (baca juga Mengenal marka jalan dan artinya)

Titik tertinggi dari jalur gunung Gumitir adalah di lokasi Watu Gudang, yaitu sebongkah batu yang sangat besar (diumpamakan sebesar gudang) yang terpaksa dibelah agar ditengahnya bisa dijadikan jalan. Selepas titik ini, dari manapun anda berkendara, jalanan akan menurun.

Watu Gudang (www.digitalbaca.com)

Secara umum, berikut ini beberapa tips berkendara melewati gunung Gumitir:

  1. Selalu sabar, waspada, patuhi peraturan lalu lintas dan safety first.
  2. Pastikan anda dan kendaraan anda dalam kondisi prima.
  3. Gunakan gigi rendah agar kendaraan anda kuat melalui tanjakan dan sebagai engine brake agar kendaraan anda tidak nyelonong ketika melalui turunan.
  4. Kurangi kecepatan ketika hendak melalui tikungan tajam. Beberapa tikungan di gunung Gumitir termasuk tikungan buta alias blind corner. Disini anda tidak dapat melihat area jalan dan kendaraan lain yang mungkin ada selepas tikungan itu karena tertutupi oleh tebing gunung.
  5. Ketika hendak melewati tikungan buta, bunyikan klakson di waktu siang atau nyalakan lampu dim di waktu malam untuk memberitahu keberadaan anda pada pengendara kendaraan lain yang mungkin datang dari arah yang berlawanan.
  6. Selalu berada di jalur yang benar yaitu jalur kita sendiri dengan tidak melewati garis marka yang ada di tengah-tengah jalan. Jalanan di gunung Gumitir cukup sempit sehingga tidak mudah untuk mendahului kendaraan lain. Jika ingin mendahului kendaraan lain, lakukan dengan hati-hati dan di lokasi yang diijinkan.
  7. Tidak melakukan pengereman mendadak dan tidak menginjak rem terus menerus.
  8. Berhenti di rest area untuk mengistirahatkan badan dan kendaraan anda, misalnya di Cafe Gumitir yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara XII. Berhenti selama 30 menit sampai 1 jam dapat menurunkan suhu rem dan mengembalikan komponen rem seperti kampas, cakram, minyak rem, dan lain-lain ke posisi normal.
  9. Walau anda yakin kendaraan anda termasuk irit BBM, usahakan mengisi bahan bakar kendaraan anda dengan cukup. Diatas gunung Gumitir tidak ada penjual bensin eceran apalagi SPBU.
  10. Jaga agar kendaraan anda tidak overheat. Jika ada tanda-tanda overheat, segera berhenti di tempat yang aman. Beberapa titik di tepi jalan gunung Gumitir cukup luas untuk menampung kendaraan roda empat.

Selamat menikmati pemandangan indah di gunung Gumitir 😀

AZNAcom

Wong ndeso yang masih tetep ndeso meskipun kini bermukim di kota. Jika anda beruntung anda dapat menemukannya sedang gowes pagi di seputaran kota Jogja.

17 tanggapan untuk “Berkendara nyaman di gunung Gumitir

    • 30 Juli, 2015 pada 8:50 am
      Permalink

      Bisa om. Pokoknya asah terus, jika belum mengkilap asah terus, asah terus, asah terus… hihihi…

      Balas
  • 30 Juli, 2015 pada 7:30 am
    Permalink

    Mantap mas, kapan² ke banyuwangi ah, tapi ke tempat siapa ya ?!?
    Selamat blog anda sudah beriklan, lanjutkan karya dengan mengutamakan originalitas seperti ini…

    SANAGAR!!!

    Balas
  • 30 Juli, 2015 pada 3:28 pm
    Permalink

    wah, Om Dom Toretto pasti sukak jalan2 kesini :v

    Balas
    • 30 Juli, 2015 pada 4:56 pm
      Permalink

      Iya, soalnya begitu turun gunung langsung ketemu deretan warung nasi pecel, hehe..

      Balas
  • 31 Desember, 2015 pada 3:20 pm
    Permalink

    3 kali ke banyuwangi…tapi lewat KA ama Baluran 2x… next coba lewat Gumitir…. Datsun Go kuat ndak yaa???

    Balas
    • 31 Desember, 2015 pada 3:44 pm
      Permalink

      Tergantung muatannya pak. Kalo bawa gabah 10 karung saya kok sangsi, hihihi…

      Balas
  • Pingback:Asal Usul Nama Gumitir dan Sejarah Pembangunannya | Alun-Alun Genteng

  • 30 April, 2017 pada 6:41 pm
    Permalink

    Apakah tingkat jalan tanjakan – turunan di Gunung Gumitir lebih berat daripada kontur tanjakan di Senduro – Piket Nol – Lumajang?

    Balas
    • 27 Mei, 2017 pada 10:39 am
      Permalink

      Kebetulan saya belum pernah lewat Piket Nol jadi belum bisa membandingkannya. Untuk tanjakan-turunan di Gunung Gumitir saya kira masih tergolong ringan-sedang bukan yang curam. Mungkin sebagai gambaran saja jika mengendarai mobil MVP sekelas Avanza penuh penumpang, pak Adrian masih dapat melewati ruas Gunung Gumitir dengan nyaman.

      Balas
  • 27 Mei, 2017 pada 2:31 pm
    Permalink

    Kalau pakai Mobil MPV kecil seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Suzuki Ertiga saja sudah mantab, apalagi kalau pakai Mobil SUV sedang seperti Isuzu Panther – Panther Touring, Toyota Innova Bensin dan Diesel, Ford Everest…..jadi super mantab. Dst…….

    Balas
    • 13 Juni, 2017 pada 2:53 pm
      Permalink

      Ya dengan catatan muatan mobil MVP-nya tidak berlebihan ya masih lancar pak. Kalau mobil SUV saya yakin pasti lebih lancar lagi.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *