Belajar antri dari bebek

Liburan akhir tahun ini terasa agak beda. Hari libur nasional yang datang bertubi-tubi mau tak mau memaksa orang berduyun-duyun pergi berlibur. Yaa memang sih mereka tampak tidak seperti sedang terpaksa, hehe.. Cukup dengan mengambil cuti beberapa hari orang sudah bisa berlibur selama 2 minggu lebih. Apalagi ini baru musimnya liburan sekolah, klop lah sudah. Mari kita kemon…

Mobilisasi orang piknik ini ternyata menimbulkan fenomena yang cukup menarik. Bukan tentang biro wisata, warung-warung, juragan hotel, kusir andhong, makelar toko bakpia ataupun pengamen pinggir jalan yang ketiban rejeki nomplok, tapi tentang haru-birunya parade kendaraan di jalanan antar kota. Dengan semangat yang menggelora, mobil-mobil pelancong tampak mengular, membentuk rangkaian yang tidak terputus bahkan sampai berkilo-kilo jauhnya.

Rela macet demi piknik – (www.tempo.co)

Good news and bad news, begitu kira-kira kata orang bule dalam film. Good news-nya adalah ini (mungkin) bisa dijadikan indikator bahwa orang makmur semakin banyak, sudah pada bisa beli mobil, walau itu harus kredit. Sementara bad news-nya adalah semakin tersisihnya kendaraan umum tergusur oleh kendaraan pribadi yang beranak pinak tak terkendali. Apa sebabnya? silakan telaah sendiri, hehehe…

Bagi saya, bad news yang sebenarnya bukan terletak pada panjangnya kemacetan namun lebih pada perilaku sebagian orang ketika terjebak macet. Yang paling bikin bad mood adalah ketidakmauan untuk mengantri. Ketika sudah tidak ada ruang lagi di jalurnya, orang dengan santainya nyelonong maju dengan cara turun ke bahu jalan atau malah masuk ke jalur untuk arah berlawanan untuk kemudian apabila sudah mentok (yang lewat bahu jalan ketemu mobil parkir atau penyempitan jembatan dan yang masuk jalur berlawanan ketemu sama yang punya jalur) mereka dengan santainya nyerobot atau mepet-mepet minta dikasih tempat. Kalau sudah gini sini maaf-maaf saja tidak bakalan saya kasih. Entah situ mau nyium pantat mobil parkir, nyemplung ke kali atau adu kepala sama kendaraan dari arah berlawanan boleh-boleh saja, kalau gak mau ya silakan kembali ke tempat asalmu tadi. hehehe…

Padahal, saling serobot ini sebenarnya bukannya bikin cepet sampai tapi malah bikin macet. Yang tadinya padat merayap malah bisa berhenti total. Gelar tikar deh, hehe…

Saling serobot
Saling serobot justru bikin tambah macet (Foto Credit : widodogroho.com)

Lalu jika sudah macet total gimana dong? Ya pilihan ada di tangan anda. Mau nyerobot dan bikin macetnya tambah lama, atau mencoba mencari kegiatan lain pengisi waktu luang menunggu pak Polisi berhasil mengurai benang kusutnya 😀 Cobalah tengok ke kiri kanan jalan, siapa tau ada pemandangan indah. Tak perlu risau lagi bakal nabrak orang, lha wong mobil anda berhenti, hehe.. Mungkin ini bisa jadi blessing in disguise, kesempatan langka mengabadikan keindahan alam sepanjang perjalanan liburan.

Mari nikmati saja macet itu, jarang-jarang kan anda menemui kemacetan di daerah Brebes, Gombong atau Caruban? 😀

belajar antri dari bebek
Parade bebek (iqmaltahir.wordpress.com)

Bebek aja kalau konvoi tidak saling serobot, masak kita harus belajar antri dari bebek? 😀

AZNAcom

Wong ndeso yang masih tetep ndeso meskipun kini bermukim di kota. Jika anda beruntung anda dapat menemukannya sedang gowes pagi di seputaran kota Jogja.

6 tanggapan untuk “Belajar antri dari bebek

  • 31 Desember, 2015 pada 11:17 am
    Permalink

    Salah satu dampak positif dari macet adalah tidak ada yang ngebut-ngebutan atau ngedrift macam di Fast and Furious. Hihihihi

    Balas
    • 31 Desember, 2015 pada 3:09 pm
      Permalink

      Masih ada, itu yg ngeblong di jalur orang, yg disampingnya ada tulisan sumber *encono, hehe..

      Balas
      • 31 Desember, 2015 pada 3:14 pm
        Permalink

        sumber group udah mulai taubatan nashuha… kemarin malah yg plat item-item yg goyang kanan-kiri seenaknya….mungkin supirnya bekas sumber *encono yg dipecat karena ugal-ugalan…

        Balas
  • 31 Desember, 2015 pada 4:32 pm
    Permalink

    Ya mungkin karena jaman serba instan, membentuk kepribadian yang menuntut serba cepat pula. Sudah biasa menikmati jajan fastfood sudah tidak terbiasa menikmati indahnya menunggu istri memasak. Sudah terbiasa ngegaspol menuju kantor, tak merasakan serunya berkumpul menunggu bis kota menuju ke sekolah.
    Itulah mungkin menjadi penyebab potong memotong jalan, karena egois sudah menjadi gaya hidup jaman sekarang.
    Ckckck..
    Semoga kita bisa menjauhkan diri dari sikap seperti itu… Mari bersabar untuk hidup lebih indah.

    Balas
    • 31 Desember, 2015 pada 7:39 pm
      Permalink

      Mungkin supaya tidak instan lagi perlu balik ke jaman ketika sepeda pancal merajalela. Ayo gowes, hihi…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *